Showing posts with label WhatsApp. Show all posts
Showing posts with label WhatsApp. Show all posts

Sunday, October 27, 2013

Perbandingan Langsung BlackBerry Messenger ( BBM ) dan WhatsApp


1. Pengiriman pesan. Pengguna BBM tentu akrab dengan notifikasi berbentuk huruf kecil "D" yang menunjukkan bahwa pesan telah terkirim ke perangkat tujuan dan "R" yang berarti pesan telah dibaca oleh pengguna tertuju.

Lantas, bukankah WhatsApp memiliki mekanisme serupa berupa tanda centang? Tidak juga. Tanda centang satu kali pada WhatsApp semata-mata menerangkan bahwa pesan telah terkirim ke server. Sementara tanda centang dua kali menyatakan bahwa pesan telah terkirim ke perangkat tujuan, bukan sudah dibaca oleh penerima.

Informasi mengenai hal tersebut diterangkan dengan gamblang oleh WhatsApp sendiri di situs resminya. Jadi, BBM masih memiliki kelebihan dalam hal kejelasan status pesan terkirim.

2. Privasi dan cara " invite ". Disinilah letak salah satu perbedaan mendasar antara WhatsApp dan BBM.

Mekanisme invitation berdasarkan nomor telepon pada WhatsApp sangat mudah digunakan karena pengguna bisa langsung mengirim pesan ke pengguna lain di daftar kontak yang sama-sama menggunakan WhatsApp, tanpa perlu repot mengirim "undangan" dan menunggu persetujuan.

Di sisi lain, kelebihan tersebut sekaligus menjadi kelemahan WhatsApp karena nomor telepon pengguna jadi tersebar ke mana-mana. Siapa pun yang memiliki nomor tersebut bisa mengirim pesan dan mengundang pengguna ke dalam grup tanpa butuh izin.

Pengguna memang bisa memblokir kontak yang tidak diinginkan, tetapi hal ini bisa menimbulkan situasi tidak mengenakkan antar-kedua orang.

BBM—termasuk versi Android dan iPhone—menggunakan mekanisme berbasis PIN dan membutuhkan pengiriman undangan dan otorisasi sebelum pengguna bisa mengirim pesan ke perangkat tujuan.

Hal ini memang membantu melindungi privasi, tapi sayangnya agak merepotkan karena pengguna tak bisa langsung menggunakan nomor telepon yang sudah ada di daftar kontak, tetapi harus mengirim undangan terlebih dahulu.

3. Berbagi "file". Baik BBM maupun WhatsApp mampu mengirim informasi kontak, lokasi, berikut gambar dan voice note.

Tak seperti WhatsApp, grup dalam BBM hanya bisa mengirim gambar, meski bisa ditambahi caption dan komentar. Tetapi, para anggota BBM Group bisa berbagi jadwal event dan kalendar.
BBM mendukung hingga 30 anggota dalam sebuah grup, sementara batas yang diberlakukan WhatsApp lebih longgar, mencapai 50 kontak.

Salah satu fitur BBM yang belum ada di versi iPhone dan Android adalah BBM Channel yang memungkinkan pengguna menjadi pengikut sebuah channel yang menyiarkan segala macam konten.

Mekanisme tersebut mirip dengan Twitter, tetapi memiliki perbedaan dalam hal privasi karena pengguna tidak bisa melihat channel mana yang diikuti oleh pengguna lain. Fitur ini rencananya bakal ditambahkan di BBM untuk iPhone dan Android di kemudian waktu, bersama dengan fungsi voice dan video chat.

4. "Emoticons" dan personalisasi. BBM menyediakan pilihan emoticon standar sebanyak 90 buah, sementara WhatsApp jauh lebih bervariasi dengan 189 emoticon yang bisa dipilih.

BBM memang menyediakan sekitar 600 " emoticon tersembunyi " yang bisa diakses menggunakan kode tertentu, tetapi hal ini merepotkan harena harus dihafal atau dikelola oleh aplikasi lain.

Soal personalisasi, pengguna WhatsApp bisa menggunakan wallpaper berbeda untuk tiap window chat. Kemampuan ini tak disediakan oleh BBM.

Keterangan status di BBM bisa diatur agar menampilkan status custom dan musik yang sedang didengarkan, serta tersambung dengan sejumlah aplikasi, seperti Foursquare sehingga dapat turut memasukkan update informasi dari aplikasi yang bersangkutan.

5. Notifikasi. Baik BBM maupun WhatsApp bisa memberi notifikasi pesan masuk lewat kedipan lampu perangkat, getaran, dan suara. BBM memiliki action " Ping " yang khas untuk mengingatkan penerima agar membaca pesan.

Friday, August 9, 2013

Sejarah WhatsApp Sebagai Salah Satu Instant Messaging Terpopuler di Dunia



WhatsApp Inc didirikan pada tahun 2009 oleh dua orang pria bernama Brian Acton dan Jan Koum. Keduanya adalah mantan pekerja senior di raksasa online Yahoo.

Keduanya sudah bekerja di Yahoo dalam waktu sekitar 20 tahun. Jan Koum yang awalnya punya ide menciptakan sebuah aplikasi yang bisa mem-broadcast status ketika seseorang tidak dapat dihubungi karena alasan tertentu.

Koum pun mengajak Acton untuk bekerja sama dengannya. Jadilah kemudian mereka menciptakan perusahaan start up teknologi bernama WhatsApp Inc yang berlokasi di Santa Clara, California.

Namun aplikasi broadcast status tersebut hanya menarik perhatian sedikit orang. Barulah ketika mereka mennambahkan fungsi messaging pada paruh kedua 2009, WhatsApp pun meledak.

WhatsApp Inc kabarnya hanya mempekerjakan sekitar 20 orang. Di mana sebagian besar di antaranya adalah teknisi.

Data terbaru pada bulan Agustus 2012, WhatsApp mengirimkan 10 miliar pesan per hari dari penggunanya di seluruh dunia. Padahal bulan April 2012, 'baru' 2 miliar pesan dikirimkan.

WhatsApp tersedia untuk semua sistem operasi mobile yang masih eksis. Dari iOS, Android, BlackBerry OS, BlackBery 10, Nokia Symbian, Nokia Series 40 dan juga Windows Phone.

WhatsApp sejatinya tidak sepenuhnya gratis. Aplikasi WhatsApp di iPhone bisa digunakan cuma-cuma selama setahun, kemudian diwajibkan membayar. Demikian juga di platform lainnya.

Pihak WhatsApp menyatakan pihaknya memang sengaja menarik ongkos dengan imbalan sebuah produk yang bisa diandalkan dan tanpa iklan. Sejak awal, aplikasi ini sudah dirancang berbayar sehingga tim WhatsApp bisa fokus mengembangkan produk.

"Kami ingin menghabiskan waktu membuat layanan yang ingin digunakan orang karena bekerja dengan baik dan membuat hidup mereka lebih baik. Kami tahu bisa menarik bayaran jika melakukan itu," kata Jan Koum.

Pilih mana, WeChat, WhatsApp, Line atau Kakao Talk ?


Pengguna ponsel Indonesia dikenal doyan texting alias gemar mengirim pesan instan. Tak ayal, penyedia layanan instant messaging dunia berlomba-lomba berekspansi ke Tanah Air.

Sebut saja KakaoTalk, Line, WeChat, hingga yang sudah lebih dulu populer, WhatsApp. Pengguna tentu menjadi pihak yang diuntungkan dengan ramainya persaingan instant messaging ini.

Ketika layanan tersebut adu keren menawarkan aplikasi menarik kepada user. Di sisi lain, pengguna diberi kebebasan untuk memilih, mau menggunakan aplikasi yang mana untuk dibenamkan pada ponselnya.

Sekilas fitur yang ditawarkan seluruh aplikasi tersebut terlihat mirip, memudahkan berbagi pesan dengan beberapa emoticon yang menarik. Akan tetapi, ketika ditanya kepada pihat pembesutnya, mereka menampik disamakan satu sama lain.

Seperti ditegaskan Simeon Cho, General Manager Line misalnya. Aplikasi besutan mereka diklaim punya cara yang lebih asyik untuk menggambarkan emosi seseorang, yakni dengan Sticker.

"Sticker yang membedakan Line dengan aplikasi sejenis lainnya, dan itu adalah salah satu keunggulannya," Kata Cho.

Pria asal Korea Selatan tersebut juga menyebutkan beberapa hal yang membuat Line bukan sekadar aplikasi pesan instan biasa. Sebut saja dengan kehadiran game, aplikasi kamera dan tools, serta akun publik yang bisa di-follow para pengguna Line.

"Itulah sebabnya Line tidak bisa dibandingkan dengan aplikasi pesan instan lainnya, Line sudah memiliki ekosistem sosial," tandas Cho.

Sementara Kakao Talk, mobile messenger asal Korea Selatan, melihat antusiasme yang besar dari para pengguna smartphone di Indonesia. KakaoTalk mencatat kenaikan 288% untuk penggunaan di Indonesia dari Januari-Februari 2013. 

Di kandangnya -- Korea Selatan -- KakaoTalk mengklaim menjadi aplikasi pesan instan favorit dengan 97% dari pengguna smartphone di Korsel telah menggunakannya.

Untuk lebih menggaet pengguna Indonesia, Kakao Talk pun berkolaborasi dengan beberapa mitra lokal untuk memperkaya konten. Ini termasuk membuat emoticon khusus dengan warna lokal bersama dengan desainer, pengembang aplikasi, hingga bekerja sama dengan operator serta kemitraan untuk membuat konten mobile promotion.

"Pendekatan kami untuk konsumen Indonesia terbagi menjadi dua cabang. Pertama, melalui sisi Korea, kami memberikan yang terbaik dari fitur populer Korea. Dan kedua, bekerja sama dengan cara yang saling menguntungkan dengan pengembang dan komunitas kreatif untuk mengusung konten lokal Indonesia yang menarik," kata Kate Sohn, VP Global Business Development Kakao Corp.

Adapun WeChat lebih ambisius lagi. Aplikasi asal China ini mengklaim menjadi aplikasi chatting nomor satu di Indonesia, dengan menempati posisi teratas di Apple App Store dan Google Play.

"Kami sangat bangga melihat WeChat meraih posisi nomor 1 di App Store dan Play Store. Hal ini membuktikan besarnya sambutan Indonesia terhadap produk kami. Tencent memang bertujuan untuk memberikan sarana komunikasi terbaik dan berkualitas dengan fitur-fitur unggulan, dan keberhasilan ini semakin memacu kami untuk menyediakan pengalaman yang lebih baik lagi untuk para pengguna setia kami di Indonesia," ujar Vincent Wang, Managing Director MNC Tencent, WeChat Operation.

Selain dapat digunakan di iOS dan Android, baru-baru ini WeChat juga telah meluncurkan versi aplikasinya untuk BlackBerry, yang sempat melejit ke posisi nomor 2 di antara aplikasi lain di BlackBerry Application World. Fitur-fitur WeChat antara lain 'Push to Talk', 'Moments', dan beraneka ragam emoticon.

"Kini 300 juta orang di dunia telah terdaftar sebagai pengguna WeChat. Demi meningkatkan pengalaman menggunakan aplikasi ini, kami sudah mempersiapkan update-update spesial. Indonesia akan menjadi salah satu dari negara-negara yang paling pertama tahu bahwa dalam waktu dekat ini kami akan melepaskannya ke pasaran," tambah Poshu Yeung, Vice President Tencent International Business WeChat.

Hanya saja, belakangan WeChat diterpa isu tidak populis, setelah dikabarkan tak akan lagi gratis. Namun Liu Chiping selaku President Tencent -- yang menjadi induk usaha WeChat -- dengan cepat menampik isu tersebut.

Lantas, bagaimana dengan WhatsApp? Sejatinya sebelum Line, WeChat dan KakaoTalk mencuat di Indonesia, nama WhatsApp telah lebih dulu populer. Aplikasi ini sukses menjadi alternatif layanan pesan instant lintas platform favorit pengguna.

Isu terakhir, WhatsApp bakal dipinang raksasa internet Google. Tak tanggung-tanggung, dana sampai USD 1 miliar atau setara Rp 9,6 triliun dilaporkan menjadi harga untuk menebus WhatsApp.

Jika benar bakal jadi pemilik baru WhatsApp, Google diperkirakan bakal mengawinkan instant messaging populer itu dengan sederet produknya. Seperti dengan Google Voice, Google Hangouts, Google Talk, dan lainnya.

Jadi Pilih Yang Mana ?